banner 728x250
Batam  

Di antara sunyi Harapan dan Gemuruh Kekuasaan: Menanti Ketegasan Prabowo dalam Menyembuhkan Luka Bangsa

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Dr. Nursalim, S. Pd., M. Pd.

1. Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni dan Desain Provinsi Kepulauan Riau
2. Ketua FAHMI TAMAMI Kota Batam |
3. Dosen Universitas Batam

banner 325x300

Ada saat-saat ketika bangsa ini seperti berdiri di tepi senja, menatap warna langit yang perlahan memudar, mencari tanda-tanda apakah malam nanti akan diberi cahaya atau hanya gelap yang semakin pekat. Di ruang batin yang paling dalam, rakyat sesungguhnya sedang menunggu sosok yang mampu menyalakan kembali lentera keyakinan mereka, sosok yang tidak hanya hadir sebagai penguasa, tetapi sebagai penuntun yang mengerti perjalanan panjang luka yang telah mereka pikul.

Kekuasaan, sebagaimana waktu, bergerak dengan caranya yang diam namun menentukan. Ia menempatkan seorang pemimpin di tengah pusaran harapan dan kegelisahan, persis seperti doa-doa lama yang pernah dikirimkan para pendahulu kita ke langit: “Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Kalimat yang sederhana itu berubah menjadi cermin besar tempat bangsa ini melihat apa yang mereka ingin percayai—bahwa pemimpin bukan sekadar suara yang memerintah, tetapi tangan yang merangkul, mata yang memahami, dan hati yang cukup lapang untuk menampung keresahan rakyatnya.

Kini, dalam perjalanan sejarah yang berliku dan penuh debu, nama Prabowo Subianto kembali berdiri di tengah kerumunan harapan. Rakyat menaruh pandangannya dengan cara yang pelan-pelan, dengan percaya yang setengah ragu, dengan rindu yang masih disertai bekas trauma. Mereka menunggu ketegasan yang tidak berubah menjadi kekerasan, menunggu keberanian yang tidak menjelma menjadi kesombongan, dan menunggu langkah yang tidak menyingkirkan yang kecil demi memuja yang besar.

Ada harapan yang tumbuh dari tanah yang letih, harapan bahwa ketegasan Prabowo kelak menjadi ketegasan yang menyejukkan, bukan ketegasan yang menggertak. Ketegasan yang membuat hukum berdiri tanpa rasa takut kepada wajah-wajah berkuasa. Ketegasan yang membuat petani dapat menanam tanpa gelisah, pedagang kecil bisa bernapas lega, dan anak-anak bangsa tidak tumbuh dengan ketakutan mengenai masa depan mereka sendiri.

Kepemimpinan, kata para filsuf, adalah perjalanan sunyi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri di tengah suara dunia yang riuh. Dan bangsa ini ingin melihat apakah Prabowo sanggup berjalan di tengah sunyi itu tanpa tersesat oleh pujian atau terperangkap oleh lingkaran yang menyanjungnya. Ketegasan sejati bukan berada pada tangan yang mengepal, tetapi pada hati yang berani memilih jalan paling berat demi kebaikan banyak orang.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan: setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, bahkan jika seekor hewan tersandung karena kelalaiannya. Maka betapa besar amanah yang kini ditimpakan kepada Prabowo, amanah untuk menjaga bukan hanya wilayah, tetapi perasaan-perasaan yang telah lama terabaikan, suara yang terlalu sering dipadamkan, dan cita-cita rakyat kecil yang tak pernah benar-benar dibawa ke meja-keputusan.

Di hadapan Prabowo terbentang jalan panjang yang memadukan cahaya dan bayangan. Ia datang dengan kekuatan sejarahnya, keberanian masa lalunya, dan ketegasan yang sejak lama melekat pada namanya. Namun bangsa ini tidak ingin ketegasan yang membangun tembok, melainkan ketegasan yang merobohkan jarak antara pemimpin dan rakyatnya. Ketegasan yang hadir bukan untuk menundukkan, tetapi untuk mendengarkan. Ketegasan yang bukan menambah luka, tetapi merawat bekas-bekas luka yang masih menganga.

Kita hidup di zaman ketika kata-kata mudah sekali kehilangan maknanya. Maka rakyat menunggu bukan kata-kata yang berdentang keras, tetapi pilihan-pilihan kecil yang dilakukan dalam diam: keputusan yang memihak petani, keberpihakan yang menyentuh nelayan, kebijakan yang mengangkat marwah buruh, dan keberanian untuk mengatakan “tidak” kepada siapa pun yang merampas hak rakyat, tak peduli seberapa kuat pengaruhnya.

Jika Prabowo kelak mampu menjadikan ketegasannya sebagai pelita yang memudarkan kegelapan, maka bangsa ini akan belajar percaya kembali; luka akan perlahan-lahan menemukan jalan sembuhnya, dan harapan yang rapuh akan kembali memiliki sayap untuk terbang. Namun jika ketegasan itu berubah menjadi tembok yang memisahkan rakyat dari pemimpinnya, maka sejarah akan kembali mencatat satu babak gelap lain, dan bangsa ini akan kembali mencari cahaya yang lain.

Pada akhirnya, kepemimpinan selalu kembali kepada satu kalimat yang paling sunyi dan paling jujur: kekuasaan hanyalah pinjaman. Ia datang seperti fajar yang membawa cahaya, dan pergi seperti senja yang tak pernah bisa ditahan. Allah telah berfirman bahwa kekuasaan diberikan dan dicabut oleh kehendak-Nya, dan dalam tangan manusia hanyalah ada kesempatan singkat untuk meninggalkan jejak yang berarti.

Maka bangsa ini menunggu di ambang harapan, menunggu ketegasan Prabowo yang menjelma menjadi kebijaksanaan, menunggu keberanian yang berubah menjadi perlindungan, menunggu keputusan yang menyentuh hati rakyat lebih dalam daripada sekadar memuaskan para pemilik kuasa. Jika itu terjadi, maka mungkin untuk pertama kalinya sejak lama, bangsa ini dapat berkata: pemimpin itu akhirnya benar-benar hadir untuk kami.

Semoga bermanfaat
Dr. Nursalim, S. Pd., M. Pd.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *